26 September 2008

Sang Juara

Labels:

Ragil biasa aku panggil anak kecil, umur 1 tahun itu. Sore ini bagiku Ragil adalah juara. Walaupun hidungnya berdarah, karena jatuh, wajahnya beradu dengan ubin ruang tamu. Jelas Ragil menangis. Jelas Ragil kesakitan. Dan jelas darah itu bertutur tentang akibat dan resiko yang Ragil tanggung ketika nekat berdiri dan mencoba berlari mengejar kakaknya yang sukses memancing ke ingin tahuannya. Keingintahuan tentang hebatnya manusia sejenis Ragil. Mampu kokoh menapakkan kaki. Melompat girang. Berlari menepi dan membiarkan tulang2 kering muda itu bekerja seperti seharusnya. Darah itu telah bertutur.

Sudah seharusnya Ragil belajar berjalan. Umurnya telah genap 1 tahun. Namun hingga menginjak bulan ketiga lepas setahun umurnya. Ragil belum juga memulai belajar berjalan. Merambat, merangkak. Dan tergelak tawanya ketika melihat kakaknya bermain boal dengan kaki2nya. Ragil hanya sanggup meng-amini keceriaan itu dipelataran rumah. Tak peduli cacing tanah atau segerombol bakteri buas bahkan jutaan penyakit yang mungkin iseng ingin mencobai imun si Ragil. Dua bulan ini Ragil masih seperti yang dulu, merangkah ketika bola mainannya jauh terlontar. Dan merambat ketika jauh makanannya diatas meja. Tapi tidak sore ini, Ragil adalah juara. Dibantu kaki meja, Ragil memulai pertaruangannya. Menegakkan tubuhnya, menopangkan lutunya dan meraba pelataran lantai ruang tamu dengan lebut telapak kakinya. Pelan jemari mungil mencengkeram sebaik mungkin kaki meja itu. Membantunya mengkokohkan tulang keringnya. Matanya mengabarkan kepada seisi ruangan. Ketakutan. Tapi senyumnya meneriakkan Ragilah salah satu kebanggaan seisi ruangan itu. Dan gelak kekeh lucu tawanya membuat seisi ruangan sontak memberikan berjuta2 doa, semangat. Dan tawa itu pun terbit dari mulut mungilnya. Pelan dilepaskan kaki meja dari rengkuhan jemarinya. Dan mengepakkan kedua tangannya. Sembari tertawa. Lucu. Seisi ruangan pun tahu sore ini Ragil akan menjadi juara. Dan doa pun dilayangkan seraya meretaskan kata2 pujian sejagat pujian. Kaki kiri mempelajari. Kaki kanan mengkokohkan langkah. Satu tapak. Dua tapak. Tiga... Jatuh. Kaki meja telah jauh 2 tapak. Tapi kaki tekad semakin menguatkan Ragil untuk melangkah menuju peluk bundanya yang merayunya di seberang 5 tapak Ragil. Ragil berdiri, sekarang dengan kekuatan sendiri. Dengan kaki2nya sendiri dengan kekuatan tubuh mungilnya sendiri. Berdiri. Satu tapak dua dan tiga.. Belum sampai kepelukkan bundanya. Si kakak datang menggoda. Ragil tergoda, tergoda untuk meyakinkan seisi ruangan, Ragil bisa berlari mengejar si kakak. Dan di tapak ke sekian. Ubin itu membekas merah. Ragil jatuh, luamyan keras menghantam pelataran lantai ruangan itu. Sontak seisi ruangan melepas laknat kepada para perusak keajaiban. Mengumpat dalam hati, untuk hancurnya cerita ajaib sore ini. Dan darah segar mengucur dari hidung mungil Ragil. Tangisan tak urung meredam. Semakin meronta ketika darah itu tak ujung berhenti. Tapi seisi ruangan tak mau melepas perih dengan dibalut luka. Dihiburlah Ragil sembari di bersihkan darahnya. Air susu bunda pun sebagai penggilas rontaan. Ragil pulas tak begitu lama setelah bundanya memeluk mesra Ragil. Kucium kening ponakkanku. Ragil adalah juara.

1 comments:

Kristina Dian Safitry said...

o..keponakanya ya,kirain anaknya,he..he...

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!