26 September 2009

Tato Naga Si Amanda

“Tato Naga ini tato ke empat!”. Kata Amanda.

*Di waktu-waktu lalu sebelum hari ini*

Rehat sebuah seminar Nasional. Lobi sebuah hotel elite.
“Hai cantik! Sini dong! Mau gak aku kencingi?!”. Rayu Tina.
“Brengsek!”. Teriak Amanda. Amanda pergi setelah meninggalkan lebam dimata kiri Tina.

*Di tahun-tahun sebelum hari ini*


Orang berkerumun. Seorang anak kecil erat memeluk emaknya. Tubuhnya menggigil. Matanya terkatup rapat. Pagi tadi anak kecil itu harus menikmati paginya dengan pemandangan seorang lelaki yang tubuhnya terbujur kaku dengan batok kepala yang menganga.

***

Di kamar kost.
Amanda meringkuk. Nyeri di pantatnya tak kunjung reda. Bibir itu tak lagi berginchu. Gigi-gigi melumatnya. Perih. Sejam lalu seorang lelaki menjajah hati dan kehormtannya. Belum puas juga. Dihajar pula tubuh Amanda. Si lelaki tepar.

Senyum puas. Menatap kemenangan atas nama kehebatan kelamin. Dengan sedikit mengujar aduhainya kata-kata cinta. Dan sentuhan-sentuhan telak di kantung-kantung birahi. Membuat Amanda ikhlas menjadi hidangan. Pencuci mulut. Karena sore tadi si lelaki baru saja menyelesaikan santapan utamanya. Perempuan lain. Tembok kemolekkan lain. Dan menghadiahi nyeri pantat yang sama. Sama seperti yang Amanda nikmati di sela perih-perihnya. Hancur sudah tembok kemolekkan perempuan itu.

Lelaki itu tau sekali bagaimana memanjakan pemberian Tuhannya. Kelamin, nafsu dan sedikit tipu-tipu. Cuman sayang Tuhan lupa memberikan rasa puas layaknya manusia-manusia yang lain. Karena setelah rampung dengan perempuan satu, si lelaki akan mampir di bilik-bilik pejantan lain. Di paksa nungging dan dihajar pula pantatnya oleh 2 lelaki lainnya.

*Masih di tahun-tahun yang sama sebelum hari ini*

Toilet kampus. Sepi. Nggak ada siapa-siapa.
“Binatang Goblok!”. Dipukul berkali-kali perut Amanda. Berharap tanda mata perang kelamin, dari si lelaki yang hidup di perut Amanda mati begitu saja. Dicobanya meminum ramuan kuno untuk membunuh tandamata itu dengan cara halus, tapi pasti. Bahkan segala cara dituju. Sederet doa-doa hitam dijajal. Satu dua kali dibenturkan ke tepian meja, tembok, lantai dan kekecewaan orangtua. Belum juga ada hasil.

Tandamata itu semakin menunjukkan keperkasaannya. Membesar di tiap perjalanan hari. Tiada ampun untuk hasil dari sebuah kesalahan. Tak sepatutnya sebuah kesalahan dibiarkan hidup dan membesar. Akan fatal adanya, jika memilih memelihara sebuah kesalahan. Kesalahan yang terlanjur disesali. Hanya ada satu pilihan.. Diakhiri hak-haknya.

*sehari sebelum hari ini*

Kamar tidur. Malam. Sebuah kontrakkan dengan 2 kamar.
Dikecup mesra jidat seorang lelaki mungil. Lelaki itu terlelap pulas diranjang empuk Amanda. “Ku biarkan kamu hidup, ku penuhi semua hak-hakmu, agar kelak luka-luka ini bisa kamu warisi..”. dipeluknya lelaki mungil itu. Dan dikecup sekali lagi jidat lelaki mungil itu, sembari mendendang lirih lagu peneman tidur. Nina bobo.. ohh.. nina bobo..

3 comments:

azaxs said...

Jangan-jangan lelaki yang pamer kejantanan itu sampean kang? ckck..ko ga puas-puase... :mrgreen:

Ridwanox said...

wah kang udh tmpur tuh,brp orng wkwkkww

BrenciA KerenS said...

OOOWWWMMMAAAYYYGGAAAYYYY...

ada penulis besar disini wooii... heii.. peoplee.. ada penulis hebat disinii....

*terkagumkagum*

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!