09 June 2009

!!!

Perusahaan yang patut diduga telah menipu kami ribuan konsumennya malah ingin menyita harta benda milik konsumennya. Apa kira-kira pendapat pembaca terhadap perusahaan Sinar Mas Group ini.

Kutipan diatas saya cuplik dari sini.

Dari kutipan tersebut dan isi curhat Khoe Seng Seng, akan menjelaskan secara gamblang bagaimana beliau dipermainkan oleh pelaku bisnis. Dan sekali lagi, prinsip hukum negeri ini, yang menggelinjang disodomi oleh kebebalannya sendiri. Terulang lagi.

Kasus Khoe Seng Seng tidak jauh berbeda dengan kasus Ibu Prita Mulyasari. Dimana suara konsumen yang tidak terpuaskan dengan pelayanan pelaku bisnis. Kemudian komplain melalui media, berakhir menjadi tersangka. Atas tuduhan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan lain sebagianya bentuk-bentuk kekonyolan hukum negeri ini.

Tidak puas dengan bantahan ini Sinar Mas Group kemudian melaporkan saya ke MABES POLRI dengan dakwaan penghinaan, pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Saya dipanggil langsung sebagai TERSANGKA bukan saksi terlebih dahulu. Azas praduga tak bersalah tidak berlaku disini.


Langsung berstatus tersangka. Praduga tak bersalah yang menjadi hak hukum sebagai warga negara. Dikesampingkan oleh penegak hukum itu sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu dimanakah keadilan itu. Apa sudah diparas menor lalu dilacurkan dimeja hijau, di ruang-ruang pengadilan negeri ini?

Lalu dimanakah negara dengan serentetan tatanan aturan undang-undang yang menjamin hukum serta rasa aman warganya? Apakah sudah dikuburkan jauh ke dalam liang kebobrokkan aparaturnya?

Apakah benar kita sebagai konsumen harus dibungkam, diancam bahkan mungkin dihabisi? Sedangkan kita sudah memenuhi kewajiban sebagai konsumen untuk mendapatkan hak yang selayaknya. Sewajarnya jikalo kita dirugikan, adalah hak kita untuk mengajukan komplain. Dengan harapan solusi terbaik untuk kedua belah pihak.

Sama halnya jika pelaku bisnis dirugikan oleh konsumen, jelas pelaku bisnis akan mencak-mencak. Tapi akan jauh berbeda jika kekuasaan uang serta relasi ikut dimainkan. Jadi pada dasarnya kekuatan hukum kita sama. Dan seharusnya tidak ada perbedaan dimata hukum.

DUKUNG dan SUARAKAN

***

PREQ : Bweh! kembalikan duitku!

SYU : Lho kok bisa??

PREQ : Aku ngeluarin duit untuk mbayar kambing yang montok-montok, kenapa kambing
cacingan yang kamu beri!!

SYU : Mosok ahh?? Becanda ya... Pasti becanda kan?? Iya jelas kamu lagi becanda..

PREQ : Apa pantatku kelihatan becanda???

SYU : Udah dehhh... lagian kambing yang kau minta udah kau dapatkan, gak usah sok
komplain gitu, nanti aku kenakan pasal perbuatan yang tidak menyenangkan
baru tau rasa kau.

PREQ : PRETTTT!!!!

SYU : BUSET!

PREQ : MAKAN TUH KENTUT! ITU BARU PERBUATAN YANG TIDAK MENYENANGKAN!!!

SYU : @#$%^&*(?>*&^#%!!!

53 comments:

JengSri said...

yang terakhir kode apa tuh mas seno?,xixixixi

Pipit said...

woh, ada lagi toh kasus kayak gini?
ckckckck

wewarna said...

hukum sekarang ini berpihak ke uwang kang

sukarnosuryatmojo said...

pencemaran nama baik? apa mereka masih punya nama baik kah?

Dunia Polar said...

hahahha...percakapan yang kerren, kayaknya negara kita semakin hari ndak semakin maju tapi mengalami kemundurun di dunia hukum dan dalam kedewasaan berpikir.

Andy MSE said...

budhallllll.......... yang pertama ke fesbuk!

Penny said...

sekarang posisi YLKI dimana ya??
Mafia peradilan mulai beraksi nih.. kayaknya..

Kabasaran Soultan said...

Uhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ..kejamnya dunia ya ?.
Dunia emang kejam
Emang dunia kejam
kejam dunia emang

Kang tulung jangan ikut-ikutan kejam ya.

As usual .... Nice posting bro

mocca_chi said...

entah kenapa, kalau sudha berhubungan sama polisi pasti jadinya ruwet, yg hanya saksi bisa jadi tersangka, yang ga tahu apa apa bisa jadi saksi, apa bener memang hanya duit yg berkuasa? *nanya sama sopo yah?

Susy Ella said...

keadilan oh keadilan...where are you???????

galuharya said...

masih muncul lagi kasus seperti prita

ck ck ck

jengah aku melihat dan mendegangarnya

Kharianto said...

Lebih baik membungkam dan berdiam diri dari dari pada bersuara tp berujung pahit,,, hehehe,,,

cucuharis said...

Kasus ini lebih dulu dari kasus Bu Prita kan?

Ridwanox said...

mereka hanya memikirkan kuantitas bukan memberikan sebuah kualitas berupa pelayanan baik dengan konsumen maka mebuat citra perusahaannya dikenal baik dengan masyarakat

endar said...

sik sik tak mikir sik ya... iki kasus ketoke wis suwe yo?

Linda Belle said...

baru tau tuh yg khoe seng seng...soalnya td jg liat di itempoeti ngomongin kasus ini jg tp gak berikut kambing hahahhaha...

J O N K said...

wkwkkwkwkw, reppppoooottt dah :D

mendingan menghirup gas beracun sambil menyelidiki kode sandi di bawah postingan heuheuheue

~noe~ said...

ga tau mo ngomong apa lagi nih. sepertinya blogger perlu blow up lagi seperti kasus prita. mumpung lagi kampanye pilpres. bisa dipake ajang unjuk perhatian para capres.

priandhani said...

bagian dialog penutup di atas itu, kisah nyata gituh?

simply cool post!!!

IjoPunkJUtee said...

Konsumen sebagai penghasil duit kok diinjak2....emangnya bisa apa produsen tanpa konsumen...???

Padahal sebenarnya, produsen merupakan konsumen juga, produksi bisa dilakukan karena adanya suplier bahan baku...

Tapi begitulah hukum di negeri begajul (nyileh dilit Den Surya...:D) Duit gede pasti lebih unggul, jiayak'an po njaluk dipacul..??

* Suwe ra ketoro Mas Seno...Ono opo..???

suryaden said...

walah..., yoh tak ndukung...

denyarelektrik said...

kangen banget aku maen ke blog ini....
kangen banget sama tulisan-tulisan ngawur sang empunya....

yaudah deh, kalo emang negera gak mau menjamin rasa aman warganya, gimana kalo kita, sesama warga negara saling menjaga keamanan bersama? daripada nunggu gerakan pemerintah? bisa kelamaan. mereka kan lagi sibuk nyari kursi yang enak buat diduduki dan dikentutin.

orangapatiang said...

wah
mengumbar kentut
bau taukkk!!!

manusiahero said...

indonesia..indonesia... UU jadi momok sekarang..

Dum said...

juwohohohohoho
juwahahahahaha
juwihihihihihi

opo yo arep diterus-terusne wae?

BrenciA KerenS said...

selama polisi, hakim dan jaksa masih pada doyan duit...hal seperti ini pasti akan selalu terjadi..

duit yang bicara lain lah ceritanyaa...

*aroma kentutnya strobery apa duren nih?*

itempoeti said...

tak ada kata lain selain...
BANGKIT MELAWAN DEMI MASA DEPAN!!!
ATAU DIAM, MATI DIGILAS SEJARAH!!!

umi rina said...

weleh...weleh...aturan ya tinggal namanya saja, semua kembali kepada aparaturnya, orang-orangnya, mau atau tidak menjalani aturan...*pretttttt....*

mantan kyai said...

???

Pradna said...

yg membuat beda dimata hukum adalah uangnya

marsudiyanto said...

Salam buat Koh Seng2...

mommy adit said...

terus gimana nasib pak seng?

wahyoe said...

adem beneeerrrrrrrrrrrrr

Xitalho said...

SYU : @#$%^&*(?>*&^#%!!!
ASY : Kowe klelegen opo?
SYU : %&^&*(&%^&^%%^#$$**
ASY : woo sarap....
SYU : Kho Seng Seng cuk..!!

faizz said...

menggelinjang????

disodomi????

waduh....sambil tengkok kiri kanan, takut ada yang lihat gue nulis sodomi, wakakakakakakakakakkk

sepur said...

Hancur......hancur....kalo semua kasus jadi begini.
Mau jadi apa negeri ini kalo hukumnya siapa yang kuat bisa sewenang - wenang seperti ini.

suwung said...

kayaknya diriku dah koment kok ilang?

aRai said...

bageanku di tuntut kapan ya ... kale ae terkenal ... xixixi

Dexter said...

Duh bingung aku, mesti semedi buat nulis komentangnya...
masalah ngene ga paham aku... Tapi tak paham-pahamne lah piye carane...

Jancuk!

Nah kuwi wes kang...

Daniel Mahendra said...

Oalah Khoe Seng Seng... Khoe Seng Seng...

SanG BaYAnG said...

Mungkin perlu pengkajian ulang tentang pasal-pasal yang seharusnya sudah tidak layak di terapkan di era sekarang.

Tapi..ngomong-ngomong yang barusan kentut sapa ya kang..wkxkxkxkxkx..

nurannisaa7 said...

numpang nampang ya mas...


Hai..hai…
Selamat ya, kamu dapet bertuah AWARD 2009, untuk lebih lengkapnya coba kunjungi Blog Jerukku di http://nurannisaa7.wordpress.com/2009/06/11/award-pertama-nih/
Semoga dengan adanya award ini bisa mempererat tali silaturahim kita, dan menjadi penyemangat untuk bisa lebih sering berbagi dengan yang lain.. goodLuck!

-orangeholic-

grubik said...

lha iyo dientuti wae, nek sing ngentuti bareng-bareng, ono efeke kok...

Top 10 Google said...

Gk cuma mbak prita to yang kena kasus kaya begiti? heran saya bagaimana ya kalo hal ini akan terus terjadi? apakah memang konsumen itu bersalah? ini sungguh menyedihkan!

rco said...

Semakin banyak pelayan masyarakat yang tidak mau ngaca. Ada kaca kecil saja sudah coba dihancurkan menggunakan tangan lian yang juga sama bodohnya.

Begitulah kenyataan.

dwina said...

Waduuh panass panass
kipasan dulu ah

mang pantes di entutin tuh kang..
hukum dari dulu ampe sekaran tetep sama. tetep diperjualbelikan seperti barang murah di pasar

Andre said...

Semakin aneh!!

Bukannya konsumen itu raja??

JengSri said...

udah komen deh disini keknya?

juliach said...

Pokoknya di Indonesia itu siapa yang punya uang dan kuasa itulah yang menang ... percaya deh sama aku ... soalnya aku sudah ngalami sendiri.

JAUHDIMATA said...

undang-undang konsumen yang tidak membela konsumen

adipati mblambangan said...

mari membela hak warga negara...

ciwir said...

konsumen nggak pernah dilindungi, karena konsumen dianggap nggak penting.
coba jika nggak ada konsumen, apakah mereka para produsen masih tetap hidup?

coba pikiren dab...
tak enteni hasil pikiranmu...

meylya said...

masih banyak prita² yang lainnya

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!