04 April 2011

L' anthem

Labels:

Air seakan terjun payung dari awan yang mengudara. Tak mau berhenti membombardir daging mentah bernyawa ini dengan tubuh mereka yang dingin. Berkecipak di pori-pori merasuk kedalam kulit ari. Dan aku menggigil.

Entah berapa waktu lagi yang aku butuhkan untuk melibasnya dengan cepat. Jarak kian mendekat namun melar jauh ratusan meter ke depan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain melaju cepat dan meninggalkan desing lumpur yang berhamburan di jalanan. Aku ingin segera disana.


Bingung dan bingung. Benarkah aku dilautan? Lalu kenapa ikan paus, hiu dan teri itu tidak saling memburu. Berjalan pelan dengan kecipaknya. Mencari daratan untuk bisa menderu gemuruh mesinnya. Tidak ini bukan lautan. Dan aku tidak melihat nelayan berhamburan disini. Aku melihat mereka dalam genangan. Dan aku yang tenggelam ditengah riuh jalanan. Hentikan halusinasi ini karena aku ingin pipis!

Bodoh, jelas aku bodoh dua kali aku menyusuri kebodohanku sendiri. Bendungan kemihku seakan menyempurnakan kebodohanku. Lobang yang relevan dengan cairan kencing tidak juga aku temukan. Dan parahnya bayangan kemarahan melingkar di kepala. Ahh biarlah aku ingin pipis dan menuntaskan semua.

Sendal jepit, celana jin yang digulung sebatas tumit dan rambut yang terkuncir semrawut. Bisa aku tebak, protes pun keluar karena telatnya informasi akan adanya lautan didepan sana. Tapi buat apa aku tanggapi, karena yang perlu ku ajak beradu argumentasi adalah mata hati dan senyummu. Itu yang aku tunggu, itu yang aku mau. Cantik.

Jangan mengumbar perkara tentang esensi kedinginan. Karena aku sedang berproses melawannya. Lihat kelakarmu tak hentinya meyakinkan bahwa hangat dekapan hujan lebih baik dari perkara, kain basah yang lengket.

Dibawah payungan hujan dua daging bernyawa saling bertegur sapa. Singkat dan tidak bertele-tele. Namun seakan-akan menyala menghidupkan lagi api dalam hati yang sudah dibatas nol derajat celcius karena dingin. Sekali lagi pelukan hujan lebih hangat dari tokoh wayang anak-anak manca. Dan..

Cukup dengan mata kita bicara. Aksara jarak dan waktu yang kita rindukan, kita lafalkan dari nanar, kedipan, airmata dan kelopak yang menganga. Tak perlu mulutmu bicara lantang tentang sebuah penjelasan, kalo bulan itu seperti itu dan hujan seperti ini. Diam dan kembalilah dalam dekapan mataku. Karena aku sedang jatuh cinta.

1 comments:

Anonymous said...

(blush)

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!