02 March 2012

Karsono

Namanya Karsono iya saya masih ingat betul wajah dari pemilik nama itu. Bagaimana tidak, sepeda saya sempat menikmati hangatnya kolong truk yang dikemudikan olehnya..

Truk itu menghantam bagian belakan sepeda dan tubuh saya. Sepeda terperosok ke kolong truk. Dan tubuh saya terlempar sekitar 2 meteran ke depan. Si pengemudi bergegas turun melihat saya berdiri sempoyongan ketepian jalan. Berkali-kali pengemudi menanyakan kondisi tubuh saya. Dan tak henti-henti berujar permohonan maaf karena telah menghantam tubuh saya dengan moncong truknya. Sembari membenahi emosi dan menggerakkan persedian lalu menenangkan jantung yang berdegup keras. Otak mulai saya gunakan untuk berpikir logis. Apa yang sedang saya alami barusan?
Nanar mata saya menatap kondisi sepeda. 3 tahun saya menabung untuk sepeda itu, sekali hantam saja saya menikmatinya dengan kondisi yang entah. Bisa saja saya luapkan emosi dengan menginjak kepala si pengemudi truk itu. Tapi buat apa? Toh sepeda saya tidak akan pulih. Toh nyawa saya tidak sekacau bentuk sepeda saya, masih ada dikandung badan. Itu yang menetralisir emosi saya. Dan modal untuk membuka obrolan penyelesaian masalah.

Sepakat. Si pengemudi yang kemudian saya ketahui bernama Karsono berjanji untuk memenuhi kesepatakan yang dia buat sendiri. Menukar sepeda saya dengan yang baru. Itu yang dia janjikan kepada saya. Saya nurut saja, toh dia sudah beritikad baik.

"Mas boleh bawa SIM saya atau apapun untuk jaminan"
"Nggak usah kalo SIM kamu saya bawa, padahal itu modalmu kerja, bagaimana kamu bisa cari makan atau cari duit buat menukar sepeda saya seperti janji kamu"
"...."
"Udah saya percaya kamu orang baik, sekarang saya mau pulang, capek dan sakit semua badan saya"
"Saya antar ke dokter mas.."
"Gak perlu"

1 Bulan tidak ada kabar dari Karsono. Sampai pada akhrinya 10 hari setelah 2 bulan janjinya. Pesan singkat masuk ke handphone saya.

"Mas saya tunggu di POM Bensin..."

Sebelumnya saya merasa sangat tertipu. Saya terlalu percaya dengan hati saya sendiri. Bahwa semua manusia itu berhati baik. Semua orang itu bisa dipercaya. Semua orang itu mampu dan berusaha menepati janjinya. Saya benar-benar tertipu. BAJINGAN kata saya setelah 2 bulan Karsono tidak menepati janjinya.

Karsono sudah menunggu di POM bensin itu semenjak pukul 7 pagi. Dan saya akui saya terlambat 15 menit. Truk itu truk yang menghantam saya dan sepeda saya. Emosi tak terbendung. Saya lihat Karsono gelisah melihat kedatangan saya. Motor saya parkir. Dan sekita itu juga, emosi saya meluap. BAJINGAN! SAYA PERCAYA SITU! TAPI SITU MBAJING INGKAR JANJI! Karsono tidak berusaha menghindar ketika saya lempar helm saya ke mukanya.

"Pukul saya saja mas, bawa saya ke kantor polisi kalo perlu, saya pasrah mas"
"SAYA CUMA MAU SITU TEPATI JANJI.."
"Iya mas saya sudah berusaha, tapi saya benar2 bingung, saya hanya dapat segini mas"

Karsono mengeluarkan isi dompetnya. Ada beberapa lembar uang ratusan ribu. Dan dia keluarkan lagi 3 lembar uang ratusan ribu dan selembar kumal uang 5 ribuan. Ditarohnya 3 lembar uang ratusan ribu itu bersama dengan lembaran uang ratusan yang lain.

"yang 5 ribu buat saya makan mas, itu yang saya punya mas.. kalo mas gak mau trima saya terserah mas, mau dibawa ke polisi, mau dipukuli mau dimatiin juga saya pasrah mas.."

"Istri saya sakit mas... waktu saya mau berangkat nemuin mas, istri saya disenggol motor, dia harus ke rumah sakit, kalo gak percaya ini tagihannya mas"

Karsono mengeluarkan struk rumah sakit. Saya diam.

Saat itu juga saya merasa seperti orang paling jahat sedunia. Saya mampu membeli sepeda dengan harga segitu, bahkan saya bisa beli sepeda lagi tanpa harus menuntut janji si Karsono. Padahal uang segitu buat Karsono adalah 4 bulan honornya. Dan sekarang harus untuk memenuhi janjinya.

Ludah emosi yang saya lemparkan ke Karsono tidak bisa saya telan lagi. Kerongkongan ini kering. Sekali lagi saya melihat seorang lelaki menangisi nasibnya. Beban hidupnya. Keterbatasan yang dipunya membuatnya menjadi merasa teraniaya oleh hidup. Beban yang dipinggulnya seakan-akan berlipat ganda dengan janji yang terlanjur dia buat untuk saya.

"saya tidak melihat besarannya. saya hanya melihat besaran niatmu untuk menepati janji, kamu orang baik. Maafkan saya"

Dompetnya saya ambil. saya masukkan lagi uang yang seharusnya jadi miliknya. Dan dia menolak ketika uang yang seharusnya diberikan ke saya, saya kembalikan lagi.

"Ini haknya kamu mas, saya tidak mau dikasihani, saya tidak mau anda kenal sebagai lelaki yang tidak bisa menepati janjinya"

Saya terdiam.

Karsono pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ku lihat truk itu berputar didepan saya, dan sempat saya baca tulisan di bak belakang truk itu. THOLEE! BAPAK PULANG BAWA UANG!

4 comments:

luvie said...

kasiyan sepedanya.. :|

BUG said...

aduh ceritanya bikin sedih " THOLEE! BAPAK PULANG BAWA UANG!" sedih bgt liat ini aduh :((


ijin bookmark sekalian..

visit back yo :D

Xitalho.com said...

ngenes aku moco critane Karsono...

Training CSMS said...

astaghfirullah, ngenes bener denger ceritanya mas.
mudah2an mas diberikan ganti sepeda baru atau bahkan motor baru sama allah swt. dan utk pak karsono saya doakan semoga diberikan kesabaran yang besar dan semoga pula istrinya cepat sembuh dan dapat rezeki yang berlimpah dan tak terduga duga dari allah swt. amin

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!