30 December 2008

Cerpen [cerita pengecretttaaannnn]

Labels:

Pesan dari dukun sebelah:
Jika terjadi kejang2 pada daerah sekitar mata karena postingan terlalu panjang, harap segera hubungi warung terdekat untuk pesan makan dan minum atau ke toilet dekat warung untuk.... untuk.... [end of message]


NUNUNG
dicelotehkan oleh: senoaji 2007 yg lalu
diposting: 2008 sehari lagi sebelum 2009

[fade out/in]

NUNUNG

jrenggg...

Dilihat dari kejauhan pun perempuan ini bagiku tidak ada yang lebih menarik daripada menarik becak empat biji. Namun ketika didekati..

Turun dari desa kawasan perbukitan Pacitan. Ke kota (Solo), berniat mengubah nasib dengan memasang taruhan kuliah di salah satu universitas Swasta di kota itu. Jurusan Teknik Sipil jadi pilihannya. Hanya sejarah itu saja yang ku ketahui tentang perempuan ini. Tidak banyak dan tidak ingin tahu lebih banyak dari apa yang sudah ku ketahui sejauh ini. Itu cukup bagiku. Terlalu banyak nanti dikira aku jatuh cinta padanya. Bercita-cita ingin jadi ahli bangunan. Katanya akan sangat berguna sekali, jika ilmunya kelak bisa diterapkan di tanah kelahirannya yang dikelilingi perbukitan. Entah bagaimana menemukan logika antara perbukitan dan gaya arsitektur bangunan. Yang jelas sekarang perempuan inilah yang sukses menyita perhatianku. Ku pikir, jebolan Jurusan Tekni Sipil entah dari sekolah manapun itu, memiliki kesamaan perilaku, diam, berpikir keras, salah jika ada guyonan dadakan. Mudah kehilangan sinyal saat ngobrol atau bercanda. Dan biasanya mudah tersesat di dunia antah berantah jika sudah mulai bicara angka-angka. Itu yang aku rasakan. Setidaknya sampai saat ini aku belum bisa melebur baur dengan mereka. Atau mungkin, aku yang bermasalah? Bisa jadi. Tapi untuk perempuan ini, jebolan jurusan teknik sipil yang satu ini...
Sangat beda..

Memang nasiblah yang memilih siapa untuk dihinggapi. Siapa yang pantas untuk dijadikan teman. Nasib punya cara yang unik untuk mempertemukan apa yang seharusnya dipertemukan atau dipisahkan, selamanya. Dan untuk nasib ku kali ini. Bisa aku sebut nasib yang aku rasakan adalah lucu-lucu jengkel. Alias sebel-sebel indah. Atau mungkin nikmat-nikmat, keparat.
Pertama kali jumpa perempuan ini, jujur, seperti salah pesan martabak. Udah bilang nggak pake telur, eh 2 butir di kocok bareng. Ya! Sangat spesial tapi mahal. Kata orang paling bijak sedunia satwa. Lingkungan kerja baru. Adalah semangat baru. Hidup yang baru. Gaji baru, baru bulan depan maksudnya. Dan semuanyalah. Termasuk sepatu baru, motor baru_baru ngutang. Dan baru saja ditimpuk lumpur sama anak-anak kecil yang doyan banget menimpuk pake lumpur. Walhasil tidak ada keterangan untuk baju baru atapun celana baru karena kotor, belepotan lumpur. Tapi tidak jadi soal ku anggap lumpur itu adalah pertanda baik untuk kerjaan ku yang satu ini. Semoga. Dan seterusnya.
Sedari rumah, sebelum berangkat ngantor. Sembari membelah rambut menjadi 2 bagian yang sama rapi. Sempat merambat dalam pikiranku. Bagaimana caraku untuk sesegera mungkin mendapatkan kenyamanan. Baik pekerjaanku atau teman sekerja. Bakalan banyak rintangan. Hanya untuk bisa melebur. Karena pada prinsipnya, bagiku beban pekerjaan adalah nomor sekian ratus berapa. Yang paling utama adalah nyaman dengan suasana dan lingkungan kerja. Bagaimana bisa sebuah kerjaan rampung dengan cepat, jika suasana dan lingkungan kerja seperti belajar bersama di tengah lengangnya kuburan Jawa. Hiiii... horor! Belum lagi bos yang bisanya cuma ngolor-olor otot lehernya. Marah-marah nggak jelas. Atau hal-hal lain yang biasa mengusik kenyaman kerja seperti yang aku dambakan. Ku tatap wajahku. Tidak ada yang berubah tetap berantakan. Dan semakin berantakan ketika pikiran-pikiran itu baru saja berak dalam benak. Ku tinggalkan kaca yang menempel di lemari. Karena tidak mungkin aku bawa. Berat!
Setibanya di lapangan, nampaknya apa-apa yang ku takutkan terjadi juga. Kedatanganku tidak mengubah apapun termasuk mengubah letak duduk mereka. Boro-boro berdiri menghampiriku lalu mengucapkan selamat bergabung. Lha ini senyum aja kayaknya lupa bagaimana caranya. Cuma melihat sepersekian detik. Lalu kembali lagi bercinta dengan komputer. Sumpah jika menguasai ilmu tenun bakalan aku santet mereka. Ku masukkan monitor flat 17 inchi ke luabang hidung mereka. Biar tahu rasa. Tapi yang dimana mereka duduk. Tidak bergeming. semua manusia disitu ku pikir begitu cuek, penuh ambisi kerja. Job des jelas, tahu apa yang harus segera diselasaikan untuk memenuhi beban kerja. Tidak menerima adanya campur tangan orang sekitar. Maksudku berisik. Atau campur-campur yang lain. Seperti campuran semen, campuran Indo jawa, dan campur aduk. Parahnya lagi, aku bingung harus berbuat apa. Mengerjakan apa. Dan apa yang harus aku lakukan untuk bisa melebur dengan mereka. Sedangkan Job Des buat ku belum juga ku ketahui. Jadi yang bisa aku kerjakan adalah bengong. Curhat dengan cicak. Atau sekedar ngobrol ngalur ngidul bareng sepasukan semut yang berbaris di dinding. Sekali aku memberanikan diri berlagak jadi anak paling gaul seantero pasar burung. kentut dalam kantong-kantong udaraku, meronta untuk segera dibebaskan dari kungkungan pantat.
Namun, Tiba-tiba entah darimana datangnya seorang perempuan, berparas_belum pasti_manis iya, tapi berkabut juga. Melangkah menuju kearah dimana aku duduk membeku, datang dengan semangat kuli gotong royong menghampiriku dan berkata,
“hehehe mas-nya orang baru ya? Pantas kelihatan seperti orang yang belum lama kerja disini!”.
Seketika itu juga aku terkapar tanpa banyak mulut. Sungguh kalimat yang menurutku seperti habis jatuh ke jurang setelah ke tabrak truk tronton. Aneh banget! Setelah itu masih dengan semangat kuli demonstrasi, Perempuan itu dengan wajah_kemungkinan ikhlas_ tanpa tedeng aling-aling menyodoriku benda aneh terbungkus daun pisang. Terkuak, Cenil namanya, makanan khas Jogja. Makanan yang ukurannya segede cenil, dengan bentuk seperti cenil dan rasanya mungkin juga seperti cenil.
“Mau mas?”
Melihat matanya, mendengarkan tawaran yang keluar dari mulutnya, dan sedikit raut wajah yang tertata begitu bersahabat. Tanpa debat panjang, aku trima cenil bungkusan itu.
“Makasih”, kataku.
“Sama-sama mas! Gitu mas gak boleh nolak tawaran orang!Gak kayak mereka!”.
Melihat ke arah manusia-manusia penghasil kebekuan dalam ruangan itu. Secepat kilat manusia-manusia itu ganti membalas dengan muka sewot tanpa kompromi terlebih dahulu. Walhasil aku hanya bisa tersenyum kecut, melihat muka-muka manusia itu yang mendadak berubah menjadi susunan wajah yang tidak ngeh dengan sikapku yang mau menerima pemberian si Perempuan.
“Iya.. mbak!”, Aku manut aja.
“Buruan dimakan! Keburu ada yang sewot!”. Sekali lagi aku dipaksa mengurai seutas tali dan mengikatkannya ke leherku. Kemudian menariknya sekuat tenaga, sampai tulang kerongkonganku patah. Untuk saat-saat seperti ini lebih baik mati, ketimbang melihat muka-muka itu. Perempuan sialan! Pekikku dalam hati.
“I.. i.. yaa.. mbak!”. Si perempuan nyengir tanpa alasan.
“Entar kalo mas-nya mau lagi aku masih punya banyak!”. Perempuan itu mengeluarkan kurang lebih delapan bungkus cenil dari
dalam tas hitamnya. Di taruh di depanku.
“Banyak kan mas?”
“Iya”. Sock melihat begitu banyaknya cenil yang bergelimpangan di depanku. Ku pertahankan kesadaranku untuk tidak berteriak. HORROOORRR!!!
“suplay perut melimpah untuk hari ini!”.
Sambil tersenyum kayak Buto cakil menang lotere, Perempuan itu menepuk pundakku.
“Iya, Mbak.. ngomong-ngomong kalo boleh tahu ini makanan beli dimana Mbak?”.
Ku buka percakapan awal, mengibarkan bendera perdamaian terhadap suasana yang sangat-sangat entah itu. Ku gigit sedikit ujung cenil yang lonjong itu. Kenyal.
“Beli?!”.
Wajah perempuan itu dipasang muka tidak terima. Ku hentikan gigitan ketiga. Terus terang aku menyesal melepas pertanyaan tadi. Yang ku sadari bakalan membekap mulut sosialisasiku. Sempurna sudah kebekuaan dalam lingkungan kerjaku yang baru ini. Yang tadinya aku pikir aku terselamatkan oleh kehangatan sambutan yang diberikan oleh si perempuan ini, sekarang berubah menjadi racun ganas yang meremukkan kecerdasan di otakku. Tidak ada jalan lain selain..
“maaf mbak..”. kelipukkan.
“Sapa yang beli?! Aku nggak beli! Gini.. Kemarin aku datang ke kondangan teman kakakku!”. Membenahi duduknya. Diam sebentar. Merasa ada yang salah dengan posisi duduknya. Ada yang mengganjal pantatnya, perempuan itu berdiri. Didapatinya satu bungkus cenil, gepeng, lumat oleh kekejaman pantatnya. Diambil dan di berikan kepada salah satu manusia yang tidak aku kenal, baru datang. Manusia itu tersenyum senang. Dibuka bungkusan kecil itu, tidak ada kecurigaan, langsung lenyap ke dalam mulutnya. Perempuan itu cekikikan. Aku diam seribu kucing ngambek. Perempuan itu melanjutkan perkataannya.
“Kamu tahukan suasana kondangan itu kayak apa?”
“Tahu mbak”
“Apa?!”. Melotot. Memberikan peringatan kepada ku untuk memperhatikan tulisan di jidatku. ‘ORANG BARU DILARANG SOK TAHU!’.
Ku gelengkan kepalaku sebelum di tebas pakai golok, menggelinding ke tengah ruangan lalu ditendang keluar ruangan. Dalam hati aku curahkan beribu umpatan dan kutukan teruntuk perempuan ini.
“Gini.. kan banyak tuh makanan, ada udang, ada ayam bakar, ayam goreng, ayam kukus_berhenti sejenak bingung, merasa ada yang nggak beres dengan daftar menu ayam yang disebut_dan tetelo, terus ada nasi, nasi goreng, rebus, bakar, dan kawan-kawan_kembali diam, bingung, mencoba berpikir cerdas, ada yang nggak beres dengan daftar menu nasi yang disebutkan_kemudian ada ini terus itu, yang disini dan disitu, wah pokoknya, makanan semua, kecuali yang makan.. terus..”.
Dan begitulah perempuan ini belum juga sampai ke pokok persoalan atau inti dari ceritanya. Tapi sudah hampir mendekati lebaran Haji, belum juga menjelaskan apapun. Kecuali menyebutkan satu persatu nama makanan yang dimakannya lengkap dengan nama, bahan-bahan yang dibutuhin dan cara memasaknya. Bahkan nomor KTP atau STNK pun disebutkan disela-sela kesibukannya mengelap liur yang capek bergelantungan di tepian bibirnya.
Yang bisa aku lakukan adalah duduk, membujur kaku tidak mampu melakukan apapun untuk menyelamatkan Holocaous ini. Sempat terlintas dalam benakku. Formalin, kulkas, cooler untuk sekedar mengawetkan masa muda yang sebagian telah ku buang sia-sia hanya untuk mendengarkan cerita nglindur perempuan ini. Orang sabar disayang sengsara.
“Nah!”. Perempuan itu bibirnya mengatup sebentar. Seraya berpikir ke persoalan topik yang sebenarnya.
“Sampai mana aku tadi?”. Berlagak lupa. Ku gelengkan kepalaku. Takut salah ucap, yang mungkin akan mengakibatkan aliran darah terbalik-balik, karena stress mendengarkan ceramahnya soal jenis dan kegunaan makanan.
“Ohh! Iya! Sampai cenil ya?”.
Raut wajahnya berubah begitu cepat dari nggak jelas menjadi semakin semrawut. Dalam hati hanya bisa ku panjatkan doa. Pertanda pasrah kalaupun setelah ini kiamat setidaknya aku sudah memohon ampun kepada-Nya. Amin!
“Ku pikir ketimbang itu cenil nggak ada yang makan.. mubasir.. jamur.. terus dicampakkan ke tong sampah.. dimakan kucing Nyam! Nyam! Nyam!Udah dech tanpa berpikir panjang kali lebar sama dengan luas lingkar panci! Aku gasak semua! Keburu rebutan sama kucing! Tapi tenang! Piring aku tinggal! Gak aku ikut sertakan! Ntar dikira maling lagi!”.
Tersenyum bangga mirip petruk main tenis. Aku memilih diam seribu maklumat. Terpukau karena keterpaksaan dengan apa-apa yang keluar dari mulutnya. Air liur, nasi, secuil kulit lombok, daun salam, daun singkong, batang pohon cemara , sampai besi beton. Semuanya keluar. Muncrat, berhamburan ke mukaku dan muka –muka yang lain sampai ke pemuka agama pun tidak luput dari ke-muncrat-an itu. Bakiak masjid, ku pikir cukup untuk Pak Haji Lono. Dan apa yang bisa aku perbuat? Hanya menunggu ambulan, yang sigap membawaku ke unit Gawat Beneran. Atau sapu lidi , sekedar membersihkan ke gondokkanku. GUBRAKK!
Hari itu aku ingat sampai sekarang aku mengabadikan cerita ini. Terakhir ku dengar Nunung_namanya_dia tidak masuk kerja. Teman-teman yang dulunya aku anggap manusia, sekarang bisa lebih cair. Dan entah mengapa mereka beda, tidak seperti biasanya. Ok lah setiap harinya diam di hadapan komputer mengerjakan laporan-laporan harian. Tapi kali ini bisa aku rasakan diam mereka aneh. Bahkan sangat aneh. Dan begitulah keanehan yang aku sendiri jadi ikut-ikutan merasa aneh. Mungkinkah hari ini hari aneh sedunia. Ku pikir orang bodoh mana yang mau meresmikan nama hari kayak gitu. Benar-benar aneh.
Ku dekati Susanto. Lelaki, teman ku yang satu ini memang terlahir sebagai orang paling cool. Bagaimana tidak dia jarang ngobrol, jarang ngajak ngobrol, bahkan jarang sekali ada obrolan diantara Susanto dengan teman yang lain. Intinya, memang lelaki ini nggak suka ngobrol. Pernah sekali aku tanyakan kepada salah satu temanku yang lain.
“Kenapa sih dia?”
“Sariawan!”
“Ooo!”
“Setiap hari?”
“He-eh!”
“Kok bisa? Jarang gosok gusi?”
“Bukan!”
“Lupa kalau punya seperangkat alat bicara?”
“itu juga bukan!”
“Hmm.. aku tahu!”
“Apa?”
“Bisu?”
“Nggak! Nggak bisu dia!”
“Lha terus kenapa dia jarang sekali ngobrol sama kita?”
“Gigi depannya di pecat sama gusinya!”
“Semua?”
“Semua!”
“Kok bisa? Gimana ceritanya tuh?!”
“Rahasia!”
Sejak saat itu aku putuskan tidak ada pertanyaan lagi untuk ku ajukan kepada saksi atas kasus pemecetan gigi oleh gusi yang terjadi di wilayah kerja mulut Susanto. Kesimpulan yang aku dapat dari tanya jawab tadi adalah Anto_begitu biasa dia dipanggil_kehilangan gigi yang disebabkan oleh rahasia. Nah kembali ke persoalan keanehan yang aku dapati hari itu. Setelah untuk beberapa menit mencoba menerka-nerka apa yang aneh, akhirnya aku bisa menemukan jawaban dari keanehan itu. Tidak ada Nunung. Ya benar Nunung tidak ada. Sekarang sudah jam 11 siang. Jam-jam segini biasanya Nunung ribut mengajukan beberapa penawaran menu makan siang. Memang Nunung yang biasanya pergi ke warung makan. Penawaran yang ku pikir tidak mensejahterakan rakyat banyak. Bagaimana tidak pernah aku pesan makan sesuai dengan menu yang ditawarkan Nunung. Lalu kukasih uang 10.000, aku bilang kepada Nunung.
“Sisanya rokok ya Mbak Nunung..”. Sekalem mungkin aku mengucapkan itu. Nunung menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum. Selamat?. Berangkatlah Nunung untuk memenuhi pertanggungjawabannya terhadap penawaran jasa membelikan makan siang. Selang beberapa menit Nunung pulang. Dibagikannya bungkusan-bungkusan nasi ke teman-teman. Nah, pas giliranku. Bungkusan itu tak kunjung muncul. Begitu juga uang sepuluh ribuku. Kemanakah gerangan mereka? Ku atur nafasku. Ku tata bibir dan mukaku se rapi mungkin. Aku sadar pertanyaan yang akan aku ajukan ini, bisa menghasilkan dampak yang tidak aku harapkan. Di semprot dengan omelan yang nggak mutu. Nah berdasarkan pengalaman saat perkenalan dulu. Maka aku mantapkan keinginan k untuk melontarkan pertanyaan tentang nasib dan keberadaan uang sepuluh ribu ku.
“Lha pesananku mana Mbak Nunung?”. Cukup halus aku pikir. Nunung menatapku tajam. Entah apa maksud dari tatapan itu. Sulit aku tebak. Terlalu banyak labirin tikus yang menempel di raut muka Nunung. Jadi sulit untuk aku tembus. Yang jelas aku sudah mempersiapkan supply oksigen. Untuk segala kemungikan buruk yang datang tanpa diundang. Siapa tahu pingsan mendadak karena di omeli. Ku lihat tangan Nunung merogoh saku celananya. Uang ku masih? Atau memang pesananku tidak ada, sehingga Nunung mengembalikan uangku. Utuhkah? Jangan-jangan uangku bernasib sama seperti 3 minggu yang lalu. Wah gawat! Dengan berdebar-debar ku tunggu benda apa yang akan nongol dari dalam saku celana Nunung. Semoga uangku! Utuh! Tidak kurang sepeserpun! Tapi...
Tapi... Tidak! Bukan uang sepuluh ribuku yang keluar dari dalam saku celananya melainkan secarik kertas. Nunung memberikan secarik kertas itu kepadaku. Nota?
“Iya?” Nunung serius.
“Nota apa ini mbak? Tanyaku pasrah.
“Itu Nota pembelian makan siang”. Nunung serius tapi tenang.
“Lha kenapa diberikan kepada saya?”. Sembari ku baca rincian Nota itu.
“cermati dulu!”. Nunung serius, masih tenang tapi membingungkan.
“Susanto: Nasi, Paha ayam bakar, sayur pare, Marmot: Nasi, telur dadar... 2, sayurnya.. brongkos, Juita: Nasi, Nggak pake lauk, dibungkus 5 bungkus?!, Restu: Nasi, tulang iga kambing, sama sate ayam model China... ???... Nunung: Nasi, nambah nasi lagi, terus lauknya masih sama...”.
“Iya masih sama, sama nasibnya seperti si Nasi, kan harus nambah juga tuh dada ayam bakarnya buat nemenin tu nasi.. kan kasihan sendirian di piring yang segede itu..” Nunung menimpali lumayan serius. Tapi jujur apa yang barusan Nunung katakan malahan membuatku semakin terjebak dalam labirin yang tak berujung. Dan juga membuat jempol kaki ku kram.
“Lalu kenapa nota ini dikasihkan ke saya mbak?” Bingung.
“Lho la iya to, kan etikanya seperti itu. Siapapun yang mengatasnamakan kerelaan untuk menomboki uang jajan. Harus tahu distribusi uang tersebut”. Cengengesan.
“Nah ini ku kasihkan ke kamu karena uangmu tadi buat nomboki makan siangku ma teman-teman...”. Nunung berdiri melangkah meninggalkan aku dengan seratus kecoa got yang berkerumun dan kecing diatas kepalaku. Bingung, pusing dan tidak mampu melakukan apapun yang berbentuk seporadis.
“Lho mbak tapi saya kan tadi pesan makan sama mbak nunung?” Teriakku.
Nunung menoleh ke arahku. Serius.
“terus mana rokokku mabak? Pasrah sambil sedikit berteriak.
“Nggak pake rokok!” tatapan Nunung serius. Layaknya guru kepergok kecing berlari.
“Kenapa mbak?”
“Kan kamu sendiri tahu

Nunung pergi membeli makan. Setengah jam kemudian, Nunung belum juga menampakkan wujudnya. Semua sudah mulai mengeluh kelaparan. Satu jam lebih tujuh menit, kedatangan Nunung masih diharapkan. Semua sudah mulai merasakan kejang-kejang, efek pertama dari kelaparan dan emosi yang tidak bisa lagi dibendung. Satu jam lebih sekian, harapan itu telah dicampakkan. Yang tersisa adalah umpatan-umpatan. Efek kedua yang dirasakan adalah mereka sudah saling melirik. Lidah dijulur-julur kayak cicak salah makan, bukan nyamuk yang ditelan malah toge yang ke embat. Tewas dengan sukses. Melihat keadaan itu aku berusaha tetap waras. Tenang namun juga waspada. Jangan sampai kegilaan itu menular ke aku. Memalukan sekali mati karena kelaparan. Plus gila sebelum ajal menjemput. Horor!
Empat jam kemudian Nunung pun datang. Dengan senyum di setempel di wajahnya. Melangkah penuh ceria ke arah dimana kami terkapar kelaparan. Ironisnya di tangan Nunung tidak ada bungkusan, plastik kresek, kardus makanan atau apapun itu. Kosong mlompong. Tanpa banyak tingkah Nunung bertanya:
“Kalian kok pada tidur sih?! Kayak nggak ada kerjaan aja!”. Matanya melotot ke arah teman-teman yang terkapar. Sengaja aku tidak ikut terkapar, aku ingin tahu apa sebab Nunung begitu lama membeli makanan dan pulang tanpa membawa apapun.
“Bangun dong! Ihhh! Pemalas kalian ini”. Bibirnya di tarik keatas pertanda muka sewot. Nunung masih berdiri berkacak pinggang. Layaknya seorang patih menang taruhan.
“Nung kemana aja sih kamu?!”. Salah seorang teman dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, memberanikan diri mempertanyakan hal itu.
“Aku?”. Berlagak lupa kalau dirinya ada misi yang wajib dijalankan.
“Aku habis makan!”. Wajahnya nampak begitu ceria. Lupa dengan amanatnya. Belum selesai temanku bertanya. Nunung sudah mulai dengan ceritanya perihal legenda kenapa dia bisa makan siang begitu nikmat dengan temannya yang di temui di warung.
“Iya.. wuihh tahu nggak aku makan banyak banget! Tumben lho aku makan segitu banyak! Kalian pasti pingin tahu aku makan apa?”. Melihat ke arah temanku dan aku yang mulai kehilangan semangat hidup.
“Sudah nggak perlu kecewa gitu! Pasti aku akan cerita ke kalian semua apa aja yang aku makan tadi”. Sama seperti yang dulu-dulu, Nunung paling bersemangat bercerita kalau mengenai soal makanan dan sejarah berdirinya. Dan jangan tanya lagi itu bisa berlangsung minimal satu jam setelah setahun lalu. Dengan kata lain matilah bagi umat-umat yang nggak punya kesabaran enam belas kali lipat. Atau yang punya penyakit darah tinggi dianjurkan untuk membawa dokter pribadinya. Siapa tahu stroke seketika itu juga karena nggak tahan dengan dongengnya si Nunung.
“Nung! Mana titipan makan siang kita?!”. Teman yang sedari tadi menahan emosi dan kentutnya, karena nggak tahan, akhirnya mengeluarkan semua kemarahan dan kentutnya. Secara bersamaan. Tanpa tedeng aling-aling. Walhasil teman yang lain tewas mengenaskan. Sudah kelaparan, lunchnya disuguhi bau letupan gas beracun.
Nunung terperanjat. Kaget, merasa bersalah, nggak enak dan malu. Lalu nyengir. Memelas, mengecat mukanya dengan motif muka merasa bersalah.
“Hehe.. gini, teman-teman.. mmm.. memang tadi aku dah nyampe warung,terus waktu mau beli gitu, hehehe.. itu eh.. mmm.. ternyata Mas Endri (kecengannya Nunung. Red) ada disitu, kita ngobrol gitu, terus dia nawari aku makan.. mmm.. kan nggak mungkin aku tolak kan? Terus aku makan gitu.. sambil ngobrol.. mmm.. mau tahu nggak apa yang kita obrolin?”. Serempak semua teriak:
“NGGAKKK!!!”.
“Ya udah... jangan marah gitu dong.. namanya juga.. mmm.. orang lupa.. manusiawi kan?”
“NGGAKKK!!!”
“Yeee... tapi beneran temen-temen aku lupa.. lagian kan tadi aku dah baik ati cerita tentang makanan yang aku makan.. apa itu belum cukup buat kalian?”
“BELUMMM!!!”
“Duhhh.. jangan marah gitu dung!”
“DUNGGG!!!”
“Idih! Ngikut aja kayak ekor monyet!”
“NYETTT!!!”
“Ya udah dong! Lagian tadi kalo nggak ada mas Endri aku nggak bakalan lupa sama titipan kalian! Coba kalian pikir, betapa malunya diriku dihadapan Mas Endri.. cakep-cakep, kok Cuma jadi kurir makanan! Ihh.. punten-punten ya!”.
Tanpa banyak cakap lagi. Teman-teman melancarkan serangan secara seporadis ke muka Nunung, menghujani dengan kata-kata, umpatan, dan beribu-ribu kutukan. Serta muncratan-muncratan air liur dari mulut-mulut yang kelaparan.
“Lalu kamu kemanain duit kita?”. Susanto bicara lantang. Sontak semua yang ada dalam ruangan itu pingsan seketika. Tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Susanto bicara. Namun pingsan berlangsung tak begitu lama, mereka semua ketawa cekikikan. Bagaimana tidak, jadi selama ini Susanto jarang ngobrol, jarang ngajak ngobrol, bahkan saat dia makan, pipis, dan berak jarang sekali bahkan tidak pernah sekalipun dilakukannya dihadapan teman-temannya. Ternyata Susanto menyembunyikan keberadaan dua giginya yang dilapisi emas. Cling! Cling! Cling!
“Kikikik!... eh itu anu Sus Kikikikik! Duitnya.. kikikik... duitnya kikikik!”. Nunung terus tertawa. Sembari memegang perutnya yang menggembung karena kekenyangan.
“Iya duit kita kamu kemanain?”. Susanto keki berat melihat tingkah Nunung yang cekikikan. Sesekali Susanto melirik ke aku, ke teman yang lain. Dan bisa ditebak muka dan gigi emasnya kehilangan kemilaunya karena keki berat.
“Kikikik! Duitnya.. kikikik! Duitnya... udah abis Kikikik!”. Tawa Nunung semakin menjadi-jadi.
“Apa?! Kok bisa?”. Susanto masih berbalut ke-keki-annya.
“Iya kan buat traktir Mas Endri! Kasihan dia nggak punya duit! Jadi sebagian buat bayar makanan, sisanya aku berikan ke dia!”.
Sekejap suasana begitu hening. Tidak ada tawa atau amarah yang saling dilemparkan. Hening. Hening banget. Kecuali aku, ku lihat Nunung terpaku ditempatnya. Kaget dengan apa yang dilihatnya.
“Lho kok pada tidur lagi???”.
Aku mendekat. Nunung masih punya perkara denganku. Nasib uang sepuluh ribuku. Ya aku tahu dari keterangan Nunung, uang teman-teman buat beli makan siang sudah ludes. Tidak ada yang tersisa. Katanya. Tapi tidak ada salahnya menanyakan kemana nasib uang ku itu. Apa ikut juga di donasikan ke Mas endri itu. Atau masih disimpan sama Nunung. Siapa tahu? Kemungkinan-kemungkinan itu pasti ada. Lumayan sepuluh ribu, bisa buat beli bensin.
“Mmm.. Mbak Nunung mau nanya nih, boleh nggak?”. Ku beranikan diriku, walau resiko apapun itu aku akan hadapi demi hak ku itu.
“Apa?!”. Menatapku ketus.
“Mmm.. mau nanya, mmm... kalau uang ku masih ada kan Mbak?”.
“Masih!”. Melempar mukanya ke arah lain. Lega, uangku ternyata masih ada, baik banget Mbak Nunung ini, pikirku. Ya mungkin karena aku yang paling bisa tahan saat dia berkicau tentang makan dan silsilahnya. Jadi dia simpan uangku. Mungkin rasa kasihan atau apa yang jelas aku lega tidak ikut serta dalam kelompok sial itu. Kelompok yang sukses pingsan, tidak ada makan siang, uang kelayapan nggak jelas juntrungannya. Aku selamat. Aku bisa beli bensin. Malam ini aku bisa nraktir pacarku ke kafe yang dia mau. Yes!
“mmm gini Mbak..”
“Nggak bisa, uang mu untuk saat ini lebih berguna buatku, jadi aku pegang dulu, lagian apa kamu nggak kasihan sama aku, uang ku habis, dan aku butuh uang buat nge-bis pulang, so makasih ya hehe”. Nunung pergi meninggalkan aku dengan berjuta-juta kenangan buruk.

[fade out/in] gemuruh suara tepuk tangan.... plokk plokkk plokkk

4 comments:

suryaden said...

dasar nonong,
belum tahu kasiat doa orang yang kelapatan, tapi orang lapar kan biasanya malah nggak berdoa...
huauauahahaha

trijatapatricia said...

ikut nimbrung dikit mas
tapi kok panjang nian !
kalo gitu nanya saja, di blok ku kenapa kok enggak bisa ngasih koment kenapa ya mas, bisa tolong bantuin enggak ?
thanks before

ajeng sekar tanjung said...

benar-benar panjang..
salam buat mbak nunung.. =p

senoaji said...

>trijatapatricia:hueheehhehehehe... iya pnjang kebetulan gak aku kalikan lebar jadnya luas dong ntaar kikikikikikik... itu bisa kok dikomenteri

>ajeng sekar tanjung: kikikikikikikik... thnks for visiting

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!