12 August 2009

Terapis Lendir Dan Kemerdekaan Mengunyah Daging Mentah Dan Segenap Jajaran Cecunguk Bumi Republikkan

Angin urung teriak gencatan senjata. Berhembus seporadis, menerbangkan debu goblok yang terjungkal diantara kerikil. Malam kian larut. Rembulan menyapa dari selangkangan langit. Menggaduhkan serombongan awan yang bahenol. Dan sesekali sekepal tanganku, ku tempelengkan keras ke mataku. SIAL! Mata ini tak jua menemui ajalnya, melepas nyawa atas nama lelah dipelataran mimpi para bidadari berpose seksi.

Ku oral sebatang rokok, api lentik menari cantik di ujung serat-serat organik nikotin. Bibir, ku biarkan kering, namun tipis basah oleh liur pagi tadi. Bweh bweh bweh! Daging ayam sarapan masih bercokol. Ku cium. Bauuuu... Lalu, Puusssss!!! Awan-awan kecil seakan bebas blingsatan disatuan udara malam. Menyembul dari ujung pantat wajahku, bibir hitam ini. Thik Thik! Tak lama bangkai tembako menggelinding jauh dan pecah porak poranda ketika menghantam pinggul batu kecil. Bubar!

Pagi ternyata masih mengantri di barisan belakang. Foreplay para penggiat percintaan masih sampai diujung jempol kaki. Cium-cium hangat khas pencari teman kelamin belum juga usai mengkibuli tercinta yang menangis hatinya.

Spa penyembuh kesepian lelaki berhati belang belum juga tutup melayani pijat refleksi kenikmatan. Tubuh-tubuh kaku dan satuan daging-daging mentah baru dimulai pelelangannya. Jauh disana Setidaknya seorang kawan perempuan sedang mengadu nasib dan harga dirinya dengan memanjakkan kelamin lelaki.

Juragan nista sedang sibuk mencabuk hati para pekerjanya. Dipaksa senyum ketika mulut pekerjanya berlumuran lendir nista. Nestapa adalah jalan terbaik untuk bunuh diri.

Dan sekejap ketika aku membayangkan sesosok makhluk bernama pagi. Terngiang lirih deru keluh seorang perempuan yang ditipu oleh jaman. Ceritanya adalah mungkin stereotype isu. Tidak menjual bahkan mudah diberakkan di WC Umum kelas terminalan kumuh! Bagaimana dia harus menghadapi pagi, bangun dengan bekas lendir yang bukan konsumsinya. Rajin mengiris hati ketika harus menelanjangi seorang lelaki dengan otak di kelaminnya...

Tapi mungkinkah ada pintu yang bisa diketuk atas nama hati nurani..
Gak akan mungkin. Dan...



Dan kembali ke waktu yang disediakan untuk aku dan kebengonganku dan sebatang rokok ini betah menindih kemanusiaanku sebagai cecunguk bumi republikan? Rumput sedang murka. Jalinannya dan goyangannya kacau oleh desah pemerkosa. Jadi tidak ada rumput yang bergoyang dengan jawaban jelas untuk pertanyaanku itu. Mati kutu.

32 comments:

meylya said...

belas gak mudeng aku
opo tho jane ki kok kelamin,,, lendir...
no comment wae lah

Xitalho said...

mati kutu gak papa om... daripada mati tenan..hehehehe...

Update...update... semangat...!!!

manusiahero said...

yuhhuuuu...semangat..

Pipit said...

*mikir*

Linda Belle said...

udh lama gk kesini...
baca dulu ya

Linda Belle said...

ya ampun...
msh gk ngerti dgn bahasa ajaibnya seno hahahah...
welkam bek dah bro!

BrenciA KerenS said...

sumpriitt.. aslii ga mudyeengg blaasss!!!

grubik said...

Hidup terapis lendir..!!!

BIG SUGENG said...

Memang mas seno pagi-pagi habis darimana sih? Reealitas sosial memang kadang menyakitkan dan menyedihkan yaa

galuharya said...

baginya malam bagaikan siang
terkadang gara-gara nasi sepiring dia rela menjajakan daging mentahnya.namun apa lacur.
sego wes dadi bubur.

keputusan pemkot surabaya
**sebualn penuh seluruh tempat hiburan malam dan lokalisasi harus tutp**

lha terus...
mereka makan apa???

mbuh!!!

olip said...

(bangunbangun)

Andy MSE said...

Oh yes... Oh no... Oh my God!...

J O N K said...

wkwkwkwkwk, mangan nikotinnya, mangan Mas, huahahahahahhahahahaha

aku ora mudeng, tapi bener2 ngakak wkwkwkwkkwkw,

jidat said...

kelamin lendir yo anuu

denyarelektrik said...

Nestapa adalah jalan terbaik untuk bunuh diri. bener banget. wah, tulisan ini seperti karya Djenar Maesha Ayu. tpai bagusan ini sih..
kemana aja nih mas seno?
oiyaaaa... aku punya puisi baru di blog. mohon komengnya ya.....

wewarna said...

duh, belum terselesaikan ya masalah itu

sawali tuhusetya said...

penggambaran suasana dan settingnya tragis banget, mas seno, menggambarkan kondisi masyarakat yang sedang sakit. salut.

Itik Bali said...

Beuh mas...
aku puyeng banget baca tulisan mas Seno
maklum aku ini cuma bisa cengengas cengenges aja
wis sukses ae jadi tukang gurah lendir yo..
wekekekeke

lilliperry said...

wakakaka..
ini cerita orang mau boker apa mas..? *gak ngerti.. huahaha

Susy Ella said...

mas senoaji kemana aja sih???

hehehh


tp soal postingannya...kayaknya terlalu berat deh buat ella..ga ngerti T_T

ciwir said...

bayangan di WC umum?
kok yo sempat2e nonto yaw
(lmao)

~noe~ said...

jujur, diriku ndak mudheng, kang.
bolak balik dibaca isinya, hasilnya ketawa tok. atau barangkali ketawa bisa mengakibatkan pikiran tersumbat ya.
satu contoh saja ini : "Ku oral sebatang rokok"
mantabs...
ini benar2 senoaji sejati :lol:

Haris Firdaus said...

semacam sarkasme tentang hari kemerdekaan ya mas? terlalu sarkastis. he2.

BrenciA said...

nek urusan seng koyo ngene bingung aku.. bosone tingkat tinggi!!

KangBoed said...

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

KangBoed said...

manstaaaaaaaaaaaaaabbbbbbsss
hihihi.. hebaaaaaaaaaaaaaaaattttttttt

kemana aja yaaak

manusiahero said...

wah mas...
istilah2 kat2 ini luar biasa..

mencerna perlu pemahaman yang kuat :D

wahyoe said...

sik tak takok mbah google opo maksudte iki :D

omagus said...

sebuah lamunan insomnia yang empuk.
membuka batin untuk melihat sebuah keterpurukan.
di tengah kekokohan angkuhnya jaman.
pemberonatkan jiwa akan lendir yang tak seharusnya di konsumsi di pagi hari (doh)

IKHSAN said...

intinya tentang lendir...hehehe

PRof said...

Dan sebatang rokok ini batal ku oral, wis imsak Oom...!!! Anjrit, kerinan jew.....

SEOnesia said...

Lanjutkan

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!