05 October 2009

Seteko Es Teh Campur Vodka

2000 - 2002.
Tahun dimana gejolak film indie begitu mempesona. Berbagai komunitas film indie maker muncul hampir di tiap sudut kota Yogyakarta. Terbakarnya Gedung Bioskop Empire dan Regent yang terjadi 3 tahun sebelumnya di bulan Mei 1999 yang menyebabkan kawasan hiburan Jogja, khusus sinemacosmic menyusut. Dan menyisakan bioskop-bioskop kecil untuk ruang publik penikmat film Indonesia era kenikmatan ranjang pengantin. Walopun sejujurnya itu pun lebih menghibur daripada nonton Kuldesak (1997) yang digawangi Mira Lesmana tersebut.

Bisa jadi itu menjadi salah satu alasan atau menembak peluang asik dengan memberanikan diri membentuk komunitas-komunitas film indie tersebut. Mencoba memberikan tontonan alternatif adalah dorongan mereka untuk berlomba-lomba memproduksi film dengan gerakan indie. Seru memang, hampir tiap bulan ada saja yang launching film berdurasi tak lebih dari 30 menit ini.

Yang tentu saja target audiance-nya adalah mahasiswa yang berdomisili di Jogja. Yang butuh media lain atau tontonan lain ketika mereka mengajak pacarnya "Yuk nonton pilem yuk yang". Mungkin seperti itu.

Entah siapa yang mengklaim sebagai pencetus gelombang baru muda-mudi di Jogjakarta di tahun 2002, dengan memunculkan komunitas-komunitas baru di bidang sinematographi. Dan tidak bisa dipungkiri sambutan hangat dan apresiasi diberikan sebagai bentuk urun seneng atas usaha gigih memberikan tontonan alternatif.

Dan jika di peta kan, arus derasnya terasa banget di daerah Jogja selatan. Dimana intensitas para penggiatnya terlihat dengan diadakannya sepekan film indie dengan tajuk-tajuk yang unik. Yang cenderung di selenggarakan di kawasan Jogja selatan. Walopun tidak menutup kemungkinan Jogja utara juga gencar meluncurkan karya-karya dahsyatnya. Namun peta tersebut bukan pengotakkan komunitas dan identitas. Melainkan menjadi media pertukaran karya dan ajang share kreatifitas.

Masih segar diingatanku karya Komunitas Belajar Bikin Film, yang melepas film karya Doni K, Agus Chosu dan Si Pram setidaknya nama itu yang masih melekat dengan film perdana meraka VIDEO CINTA: Pak Pos Tolong Kirimkan Bibirku. Unik memang dari judulnya. Dan benar adanya kental simbolisasi dan ulik cerita yang bertautan membentuk labirin, mendominasi karakter film indie tahun itu. Namun tetap saja romansa dan kisah cinta yang digambarkan rumit tidak lepas dari benang merah cerita-cerita tersebut.

Dan entah mengapa, antusiasme audience saat itu begitu besar. Nampak berjibunnya pengunjung seantero jogja. Yang sebagian besar didominasi oleh kaum muda Jogja dan komunitas-komunitas film Indie. Namun secara otomastis itu menjadi satu lingkaran besar yang menjadikan mereka begitu kuat dan solid. Dalam upaya mengembangkan tontonan alternatif jogja.

Dan mungkin kelak menjadi ajang nostalgila para penggiat film indie maker. Untuk kembali mengenang masa-masa indah itu.Dimana apresiasi adalah sesedap es teh campur vodka dan jajanan pasar yang murah meriah, lesehan sambil cenut-cenut ra mudeng dengan film yang disajikan. Kemudian haha hihi di selatsar TBY.

Ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon dan mikir piye carane carane piye bisa produksi ide dan menjadikannya film cekak alias pendek yang judeg bagaimana bisa diproduksi hanya dengan modal handycam kampus dan duit patungan. Serta artis yang ikhlas untuk main sekedar dibayar makan dan udud (rokok).

Kalo dipikir-pikir pekok-pekok lucu juga. Tur hebat wis! Setidaknya ada ketimbang tidak ada sama sekali. Dan ketimbang hanya bisa ngritik dan gak pernah nyoba sama sekali.

21 comments:

meylya said...

nostalgila kih ceritane

suryaden said...

keudaks...

iwan said...

mantaf nih

xitalho said...

Semangat yang patut diapresiasi...

Sapa tau kelak dikemudian hari Jogja bisa jadi Holiwutnya Indonesia.

sing produksi #GP(*) termasuk ora ??

(*)nulisnya caps locknya dilepas... hihihi.

wewarna said...

ganti penampakan kih. ra nyambung yo nyaris pokoke :)

Ridwanox said...

wah templatenya makin apik wae kang :D

lilliperry said...

mantab...

gajah_pesing said...

saia tertarik dengan judulnya, VODKA
*let's rock baibeh...*

Pipit said...

serunya hidup di jogja
hiks
pengen

namaku wendy said...

kapan yo ono sepekan pelem indie di semarang hiks

Kabasaran Soultan said...

Wakakakakakak ...lagi, lagi dan lagi.

mantap to
Enak to
Lucu to
Gendeng to

nice posting bro

omagus said...

ngayahi gawean lawas..!

abagus said...

pilm opo to mas..?

love4live said...

film indie kuwi rak bollywood tooo???
sing bintange kuwi sanjay dutt???

ngerti akuuuuu....

Cah Ndueso said...

tidak hanya vodka,gin dan vermouth juga musuhnya shinichi kudo.hahaha.....

cah ndueso said...

kangen aku karo mas lemu,hehehe....

Pradna P said...

tak kiro film indiee tu film yg banyak joget-jogetnye

riFFrizz said...

selain vodka,ples javaness drink malah bagus

grubik said...

nek vodkane seteko yo jelas cenut-cenut ra mudeng, cah...

wewarna said...

eeeh tibae aku wes komen yooo *numpang nampang maneh :) *

joresan freedom said...

WAH.ALTERNATIP YG BAGUS BOZZ..PA LG BISA BIKIN KONAK MERINDING..HEHEHE

Post a Comment

Jan-jan e ngene lho..

KHILAF ITU INDAH

Jangan pernah takut untuk menulis. Jangan pernah merasa tidak bebas menulis. Jangan pernah merasa tulisanmu itu tidak lebih baik dari tulisan siapapun. Jangan pernah dipenjara oleh ketidakmampuan. Jangan pernah merasa tulisanmu tidak layak. Dan jangan pernah berhenti untuk menulis lebih baik menurut ukuranmu.

Apapun aksara dan kata yang kamu toreh. Kamu telah menulis kalimat indah dalam hidupmu. Kelak menjadi cerita, dongeng atau mitos tentang keberadaanmu, karena kamu menulis.

PREKMATANE!

Tentang

My photo
Aku adalah seekor manusia. Dan Selalu ada saat yang tepat untuk menjadi Raja di Kerajaan sendiri. Senoaji
There was an error in this gadget

Lagi Pipis

Lagi Pipis
ANTRI DONG!!